

Nama sahabat Rasul ini tidak terlalu asing bagi kita karena banyak sekali hadits-hadits yang meriwayatkan hubungan beliau dengan Rasulullah Saw. Kisahnya diawali ketika penduduk kota Madain berbondong-bondong keluar untuk menyambut kedatangan seorang pejabat baru yang ditunjuk oleh Amirul Mu'minin Umar bin Khathab ra menjadi walikota di Madain. Mereka sudah sangat merindukan kehadiran sahabat Rasul yang satu ini karena telah dikenal oleh mereka keshalehan dan ketakwaannya serta kegigihan dan keberaniannya dalam menaklukan Irak.
Tatkala mereka sedang beramai-ramai menunggu datangnya rombongan pejabat baru yang dinanti-nanti, tiba-tiba mereka melihat ada seorang laki-laki yang menunggang seekor keledai yang dipundaknya terjurai selembar kain kusut. Sambil menaiki keledai, laki-laki tersebut memegang sepotong roti yang dimakan dengan garam. Pemandangan ini tentu saja membuat terkejut penduduk Madain ketika laki-laki yang naik keledai tersebut diketahui beliau adalah Hudzaifah Ibnul Yaman. Semula mereka membayangkan lazimnya seorang pejabat yang datang akan diiringi oleh banyak orang dengan pasukan khusus.
Hudzaifah saat itu mengerti betul akan situasi dan kondisi penduduk Madain yang sedang bingung tersebut, lalu beliau menatap mereka yang terlihat menunggu pernyataan beliau bahwa dia adalah Hudzaifah. Mereka juga menunggu amanat yang akan beliau sampaikan di awal kehadirannya dalam memimpin kota tersebut. Di hadapan penduduk Madain, beliau sampaikan amanat pertamanya dengan mengatakan: "Saya ingatkan kepada kalian agar menjauhi tempat-tempat fitnah". Pernyataan ini belumlah jelas bagi penduduk Madain, sehingga mereka bertanya: "Apa yang dimaksud dengan tempat-tempat yang bisa menimbulkan fitnah, wahaiAbuAbdillah (Hudzaifah)?" Jawab Hudzaifah: "Sumber fitnah adalah pintunya para pejabat. Banyak di antara kalian jika sudah masuk pintu pejabat atau penguasa, maka kalian akan membiarkan dusta dan selalu memuji-muji pejabat tersebut atas perbuatan baik yang tidak pernah mereka lakukan".
Fitnah yang dimaksud adalah hal-hal yang bisa menyeret manusia dalam hidupnya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan aturan Allah. Betapa sangat luar biasa pesan Hudzaifah tersebut. Sebuah pesan yang hendaknya dapat kita jadikan teladan bagi kita khususnya juru dakwah di jalan Allah untuk tidak masuk ke pintu-pintu pejabat atau penguasa. Karena jika sudah masuk pintu pejabat atau penguasa (mendekati para penguasa), maka tidak menutup kemungkinan dia akan selalu membiarkan dusta yang disampaikan pejabat tersebut, kerjanya sebatas "mengangguk-angguk" atau meng-"lya"-kan saja ketidakbenaran dan memuji-muji pejabat tersebut dengan berbagai pujian yang tidak pernah dilakukannya.
Kepribadian Hudzaifah yang sangat istimewa dan yang paling menonjol adalah kebenciannya terhadap sikap munafik. Sejarah membuktikan bahwa sejak beliau dengan saudara kandungnya, Shafwan, mendampingi ayahnya menemui Rasulullah Saw lalu ketiganya menyatakan diri masuk Islam, maka beliau pun dikenal sebagai seorang pemuda yang sangat kuat keinginannya, bersih hatinya, gagah berani dan sangat membenci orang yang berjiwa pengecut untuk menyampaikan kebenaran. Karenanya, beliau paling benci dengan orang yang memiliki sikap munafik yang tidak pernah berani menyatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah.
Sebaliknya, beliau sangat mencintai orang-orang yang punya keberanian untuk menyampaikan kebenaran apa pun risiko yang harus di hadapinya. Seorang mu'min dituntut untuk berani menyatakan kebenaran, "Katakanlah apa yang hak meskipun akibatnyaterasapahit"(HR. IbnuHaban). Kehadiran Al Qur'an salah satunya sebagai Al Furqon (pembeda) (Al Baqarah : 185), pemisah antara yang hak dan batil, halal dan haram, mu'min dan kafir, pemisah antara yang benar dan yang salah, di mana menjadi tugas setiap mu'min khususnya para 'ulama untuk menyampaikannya.
Selain benci terhadap kemunafikan, beliau pun sangat benci terhadap manusia yang berbuat riya yang hanya ingin mendapatkan pujian orang lain. Salah satu kelebihan beliau adalah membaca tabi'at seseorang dari wajahnya. Hal ini diakui oleh para sahabat termasuk Umar bin Khatab ra yang seringkali meminta pendapat Hudzaifah. Pikiran jernih beliau inilah yang mengantarkannya pada satu prinsip, bahwa kebaikan atau kebenaran itu adalah sesuatu yang jelas yang semua orang sebenarnya dapat dengan mudah mengetahuinya. Sedangkan kejahatan atau kemaksiatan itu adalah sesuatu yang samar-samar dan gelap.
Prinsip ini beliau dapatkan dari Rasulullah Saw yang dapat kita simak lewat kisah beliau sendiri: "Biasanya orang lain bertanya kepada Rasul perihal kebaikan, sebaliknya saya lebih sering bertanya kepada Rasul perihal yang tidak baik karena saya takut jika saya melakukannya. Saya bertanya kepada Rasul: Kita dulu berada di zaman Jahiliyah dengan segala macam bentuk kejahatan, lalu Allah mendatangkan kepada kita kebaikan (Al Qur'an), apakah setelah kebenaran dan kebaikan ini masih adakah kejahatan? Jawab Rasul: Ada, tetapi dia kabur dan sangat berbahaya sekali. Di mana letak kekaburan dan bahayanya ya Rasulullah? tanyaku pula. Rasul berkata: Ketika suatu kaum melakukan sunnah tidak sesuai dengan sunnahku, mengikuti petunjuk bukan petunjukku, maka kenalilah dan cegahlah mereka". Apakah setelah kebaikan itu masih ada kejahatan? tanyaku lagi. Rasul mengatakan: "Masih", yaitu para penyeru yang berdiri di depan pintu neraka Jahannam, barangsiapa yang mengikuti ajakannya maka mereka pun akan dicampakkan ke dalam neraka Jahannam. Lalu kutanyakan lagi kepada Rasul: Ya Rasulullah, apa yang harus aku perbuat jika aku menemui kaum seperti itu? Rasul berkata: "Kamu bergabung dengan jamaah muslim dan imam mereka". Andaikata saya tidak menemukan jamaah dan imam? tanyaku pula. Jawab Rasul: "Tinggalkan semua kelompok itu, walaupun kamu akan tinggal di tengah-tengah rumpun kayu dan kamu harus mati karenanya".
Hudzaifah suatu saat berkata: Allah telah mengutus Nabi Muhammad lalu beliau mengajak manusia meninggalkan kesesatan menuju petunjuk, meninggalkan kekufuran kepada keimanan, lalu sebagian manusia mengikuti ajakkan itu, maka dengan itu hiduplah kembali kebenaran setelah dia sempat mati dan matilah segala kebatilan ketika dia sempat hidup. Maksudnya, kebatilan yang mewarnai kehidupan masa Jahiliyah menjadi mati, sementara kebenaran yang semula tidak nampak menjadi muncul. Setelah berlalu masa kenabian lalu datanglah masa khilafah, muncullah penguasa-penguasa yang durjana. Lalu ketika muncul para penguasa-penguasa yang durjana itu, maka ada di antara orang yang kemudian mengingkari dengan hati, tangan dan lidahnya, mereka inilah orang-orang yang memperjuangkan kebenaran. Artinya mereka yang selalu berusaha untuk meluruskan yang munkar itu dengan tangan atau kekuasaan atau dengan lidah atau lisan atau dengan hati.
Ada juga orang yang mengingkari kebatilan itu hanya dengan lisan dan hatinya, dia tidak mau mempergunakan kekuasaannya, maka yang bersangkutan sudah meninggalkan satu bagian dari kebenaran yang harus diperjuangkan. Ada pula orang yang mengingkari kemunkaran itu hanya dengan hatinya lalu dia sembunyikan tangan dan lidahnya, maka dia sudah meninggalkan dua bagian kebenaran yang harus dia perjuangkan. Dan di antara manusia, ada juga yang tidak mau mengingkari kemunkaran itu baik dengan tangan atau kekuasaan maupun dengan lisannya bahkan tidak pula dengan hatinya, maka orang-orang yang seperti itu tak ubahnya "mayit-mayit atau bangkai yang masih bernyawa".
Berbicara tentang hati, beliau mengatakan, bahwa hati manusia itu ada "empat" macam.
Pertama, hati yang tertutup. Seperti hatinya orang-orang kafir (QS.2:74).
Kedua, hati yang terdapat dua muka. Yaitu kekufuran yang berpura-pura beriman.
Ketiga, hati yang suci bersih.
Keempat, hati yang setengahnya kemunafikan dan setengahnya keimanan.
Tamsil keimanan seperti sebatang kayu yang dihidupi air yang bersih, sedangkan kemunafikan itu tak ubahnya bagai bisul yang diairi darah dan nanah, maka antara keduanya yang lebih kuatlah yang akan menang.
Pengalaman Hudzaifah yang sangat luas dan ketekunannya dalam menghadapi kemunafikan, kebohongan dan sebagainya, menyebabkan beliau terkenal dengan lidahnya yang sangat tajam, pedas dan tegas jika bicara. Perihal ini beliau pernah juga khawatir pada dirinya, maka beliau pun mengatakan: "Saya pernah mendatangi Nabi Saw lalu saya berkata: Ya Rasulullah, saya ini punya lidah yang terbiasa tajam terhadap keluarga saya. Saya khawatir kalau-kalau hal itu akan menyebabkan saya masuk neraka". Rasul berkata: Kenapa jika kamu khawatir tidak beristighfar kepada Allah? Sesungguhnya aku beristighfar kepada Allah dalam sehari 100 kali". Apakah Hudzaifah itu bersalah sehingga Rasul menyuruh beliau istighfar? Beranikah kita menyatakan Rasulullah bersalah sampai beliau harus selalu beristighfar 100 kali dalam sehari? Tentu hal ini menjadi pelajaran berharga bagi kita, kemuliaan setingkat Hudzaifah dan Rasul saja harus beristighfar 100 kali sehari, apalagi dengan diri kita yang semestinya harus lebih dari 100 kali sehari.
Dalam perang Uhud, beliau pernah melihat ayahnya meninggal di tangan seorang pejuang wanita. Wanita muslimah ini mengira bahwa ayah Hudzaifah termasuk pasukan kafir Quraisy. Sebelum pedang wanita tersebut mengenai kepala ayah Hudzaifah, beliau melihat dari kejauhan pedang tersebut akan menghujam kepala ayahnya maka dia berteriak: Ayah..Ayah.Jangan itu Ayahku, tapi pedang si wanita tersebut sudah terlanjur kena, dan akhirnya ayahnya yang bernama Husail bin Yabir seketika meninggal dunia. Melihat peristiwa ini maka pasukan muslim pun termenung terlebih lagi si wanita muslimah yang tidak sengaja melakukan itu. Maka Hudzaifah mengatakan: Semoga Allah mengampuni kalian, Dia adalah Dzat Yang Maha Penyayang. Setelah itu beliau masuk lagi ke medan perang. Usai peperangan berita ini sampai pula kepada Rasul, maka Rasul pun menyuruh agar yang membunuh itu membayar diyat (karena tidak sengaja) dengan membayar senilai 100 ekor unta. Hudzaifah tampil mewakili keluarga lalu mengatakan: "Saya sudah maafkan kesalahan itu, kalau pun mau silakan bersedekah untuk fakir miskin". Sikap beliau yang seperti inilah yang telah membuat Rasul semakin mencintainya, dipeluknya Hudzaifah sambil Rasul mengatakan: "Engkau berhati sangat mulia, wahai Hudzaifah".
Dalam peristiwa perang Khandaq, Hudzaifah diutus Rasul menjadi mata-mata yang masuk langsung ke jantung pertahanan musuh. Peristiwanya, ketika itu Rasul dan ummat Islam dalam kondisi bertahan di dalam Khandaq (parit) yang dibuat, sementara kaum musyrikin sudah mengepung ummat Islam selama lebih dari sebulan. Rasul bermaksud ingin mengetahui bagaimana kondisi kekuatan musuh yang sebenarnya yang waktu itu digambarkan malam gelap gulita, membawa suasana takut, badai taufan menderu-deru seolah-olah ingin mencabut gunung-gunung yang ada, dan rasa lapar sudah dirasakan oleh banyak para sahabat Rasulullah. Lalu siapakah yang dipercaya oleh Rasul? tidak lain adalah Hudzaifah. Rasul pun memanggilnya. Dengan kejujuran hatinya yang sangat luar biasa terungkap lewat cerita beliau sendiri: "Ketika aku dipanggil Rasul dan diamanatkan kepercayaan seperti itu maka aku terima kepercayaan itu dengan segala berat hati". Beliau mengakui sendiri, beliau takut karena pada waktu itu mengetahui akibat yang akan di hadapi. Saat itu digambarkan dengan hujan badai sehingga lampu-lampu padam dan kemah-kemah orang musyrikin gelap gulita, kesempatan ini dimanfaatkan oleh Hudzaifah untuk masuk di tengah-tengah mereka. Abu Sufyan yang memimpin perang kaum Musyrikin mengatakan: "Jangan-jangan ada mata-mata ummat Islam yang masuk di dalam pertahanan kita, maka dia mengatakan kepada pasukannya: "Masing-masing dari kalian memegang tangan orang terdekat lalu ditanya siapa dia". Begitu mendengar komando Abu Sufyan, segera saja Hudzaifah cepat memegang tangan orang yang ada di sebelahnya sambil bertanya: "siapa anda?" Maka selamatlah Hudzaifah karena beliau lebih dulu memegang tangan orang yang di sebelahnya. Setelah itu, kembali Abu Sufyan menyatakan kepada pasukannya perihal kondisi mereka yang tidak memungkinkan melanjutkan peperangan dan diputuskan agar pasukan meninggalkan kancah peperangan. Hudzaifah berkata: "Kalau tidaklah pesan Rasul Saw kepada saya agar saya tidak mengambil sesuatu tindakan sebelum menemuinya lebih dulu, tentulah saya bunuh Abu Sufyan itu dengan anak panah". Hudzaifah kembali menemui Rasul dan menceritakan berita gembira tersebut kepada Rasul.
Akhir kisah, pada tahun 36 Hijriyah beliau wafat. Ketika beliau dalam kondisi kritis, orang-orang pun datang menengoknya dan sebagian sudah ada yang menyiapkan kain kafan. Maka beliau bertanya: "Apakah kalian membawa kain kafan?" Jawab mereka: Benar. Kata Hudzaifah: "Tolong tunjukkan kepada saya". Maka diperlihatkan kain kafan tersebut dan beliau melihat kain tersebut sangat bagus sekali, beliau pun tersenyum dan itulah senyuman beliau yang terakhir. Dalam senyumannya beliau berkata: "Kain sebaik ini tidak saya perlukan untuk membungkus jasad saya, untuk membungkus jasad saya cukuplah dua kain yang tidak terlalu bagus karena dia tidak akan lama menyertai saya di dalam kubur". Akhir hayatnya pada saat sakaratul maut, ucapan beliau sudah mulai tidak terdengar lagi dengan jelas, maka orang-orang pun berusaha untuk mendekatkan telinganya kepada Hudzaifah, yang berhasil mendekat sempat mendengar kalimat terakhir beliau mengatakan: "Selamat datang kematian, sang kekasih datang pada saat kerinduan tidak tertahan lagi. Hati bahagia tak ada keluh atau sesalku". Beliau merasakan kematian sebagai kekasih, karena sang kekasih inilah yang akan mengantarkan beliau berjumpa dengan kekasih beliau yang sesungguhnya yakni Allah SWT.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar